Silaturahim di Bumi Ali Jinnah


Diaspora Indonesia berkumpul di Islamabad saat Idul Fitri, Selasa (3/5). (Dok. Istimewa)
Diaspora Indonesia berkumpul di Islamabad saat Idul Fitri, Selasa (3/5). (Dok. Istimewa)

DIPLOMASI REPUBLIKA — Bagi diaspora Indonesia, Idul Fitri atau Lebaran menjadi ajang silaturahim untuk melepas kerinduan. Ini dirasakan juga bagi warga Indonesia yang tinggal di bumi Ali Jinnah, Pakistan.

“Tradisi ber-Lebaran di Pakistan mungkin agak sedikit berbeda dengan Indonesia. Bagi Muslim Pakistan, Idul Iftri merupakan cotha id atau Id kecil, jadi kurang begitu terlihat euforia Lebarannya daripada bara id atau Id besar yaitu pada momentum Idul Adha.” kata Badat Alauddin kepada Diplomasi Republika, Jumat (6/5).

Badat saat ini adalah mahasiswa S1 di International Islamic University Islamabad, Pakistan. Saat ini ia pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pakistan dan pernah menjadi ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Pakistan pada 2021-2022.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Tradisi lebaran di Pakistan yang unik adalah ru’yat e chand yaitu beramai ramai bersama keluarga besar duduk di taman pada malam takbiran untuk melihat hilal pada 1 Syawal. Pastinya tidak semua orang mengerti ataupun bisa melihat hilal, tetapi ru’yat e chand menjadi momen silaturahim yg tepat bersama keluarga dan sahabat.

Pada malam Id, sahut-sahutan takbir tidak akan terdengar dari pengeras suara masjid seperti lazimnya di Indonesia. Namun, selepas isya mereka akan saling berpelukan dan saling menyapa Id mubarok ho atau Selamat Idul Fitri dan duduk bercengkrama menikmati sajian teh susu dan makanan ringan.

Keesokan paginya, saat 1 Syawal, orang-orang akan berangkat menuju masjid. Sedangkan diaspora Indonesia di Kota Islamabad, lebih memilih masjid agung Pakistan, yaitu Masjid Shah Faisal. Di sanakan mereka akan menunaikan sholat Id.

“Pada pagi hari biasanya semua orang akan keluar rumah berbondong-bondong menuju masjid dengan sanak keluarga. Taradisi unik lainnya biasanya wanita Pakistan akan menghias tangannya dengan mehdi, yaitu semacam lukisan dan ukiran di tangan untuk wanita, dan memakai banyak gelang,” kata Badat.

Untuk pria mereka akan memakai pakaian terbaik mereka, yaitu shirwal qamis. Pakaian itu berupa gamis panjang sampai lutut dengan warna senada celana dan rompi.

Makanan Indonesia mengobati kangen akan Tanah Air. (Dok. Istimewa)
Makanan Indonesia mengobati kangen akan Tanah Air. (Dok. Istimewa)

Selepas shalat Id, kata Badat, orang-orang akan membagikan khalwa yaitu semacam manisan dan kheer, seperti bubur mie dengan rasa manis dan kuah seperti susu. Semua itu diberikan di sepanjang jalan pulang dari masjid seraya mengucapkan Id mubarok ho.

Sementara diaspora Indonesia di Pakistan, mereka memiliki cara tersendiri untuk mengobati rasa kangen dengan tradisi Lebaran di Indonesia. Pakistan merayakan Lebaran pada Selasa (3/5) atau terlambat satu hari dibanding Indonesia.

Selepas shalat Id, warga Indonesia berkumpul di KBRI Islamabad dalam rangka silaturahim. Mereka juga menghadiri acara yg diinisiasi oleh PPMI Pakistan, “Mudik goes to Pakistan”. Acara ini menjadi momentum temu kangen seluruh diaspora yang bisa berkesempatan berkumpul menikmati opor ayam, ketupat serta rendang daging khas Indonesia.

Salawat dan nasyid tampil dalam acara Mudik Goes to Pakistan. (Dok Istimewa)
Salawat dan nasyid tampil dalam acara Mudik Goes to Pakistan. (Dok Istimewa)

Mereka menikmati lantunan salawat dan nasyid hari raya yg disenandungkan oleh hadrah “mavia sholawat Pakistan”. Acara ini bahkan dimeriahkan seni angklung dengan lagu Lebaran dan tarian Malili khas Sulawesi.

“Acara ini kami inisiasi persembahan kami untuk diaspora Indonesia sebagai obat dari rasa kangen karena jauh dari Tanah Air dan ajang silaturahim antardiaspora Indonesia pada momentum Lebaran,” kata ketua penyelenggara “Mudik Goes to Pakistan”, Saddam Abdullah Alim.

Diaspora Indonesia usai shalat Id (Dok. Istimewa)
Diaspora Indonesia usai shalat Id (Dok. Istimewa)

Selepas silaturahim temu kangen dengan seluruh diaspora Indonesia di KBRI Islamabad, dilanjutkan dengan silaturahim dari rumah ke rumah. Mereka biasanya menikmati kue ringan serta kudapan khas Indonesia yang disajikan rumahnya.

“Kalau di rumah biasa mengunjungi sanak keluarga, kalau di Pakistan ya karena semua disini keluarga, kita kunjungi semua bapak dan ibu diaspora Indonesia disini,” kata Dohan Amrullah, salah satu mahasiswa di Islamabad yg tinggal di asrama.

Tradisi ini dihidupkan oleh diaspora Indonesia dan mahasiswa. Tujuannya, untuk memupuk tali silaturahim serta mempererat persaudaraan sesama di tanah perantauan juga sebagai obat kangen dengan tradisi Lebaran di Tanah Air tercinta, Indonesia. (yen)





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published.